Text Me for More Product Info: 0812-9948-137

Amanah Peradaban

Beberapa pekan lalu seorang kawan yang juga tetangga menanyakan kepada saya, apakah bersedia mengisi sebuah majelis taklim sebulan sekali dengan tema tafsir AlQur’an.

Jujur, dalam hati sebetulnya saya udah refleks menolak. Sebagaimana beberapa tahun sebelumnya, ketika seorang kawan meminta tolong untuk membina sebuah kelompok kecil ibu-ibu. Namun, setelah lebih dari dua tahun (yap, saya emang lambat panas) akhirnya saya mulai merasa nyaman dan berhenti menganggap kunjungan rutin untuk berbagi motivasi ini sebagai beban. Bahkan, berlimpah manfaat yang saya dapatkan karena saya yang awam dalam agama ini -ternyata- ikut bertumbuh bersama kelompok ini. Yang tadinya mudah galau dan sensitif, kini lumayan stabil. Meskipun ya tentu masih swing swing terus keimanannya.

Maka ketika ibu tetangga ini menanyakan kesediaan saya maka berusaha mengingat segala manfaat yang bisa saya dapatkan. Minimal bertambahnya wawasan karena mau gak mau harus membaca berlembar-lembar tafsir dari suatu ayat sebelum menyampaikannya. Saya juga mau gak mau harus keluar rumah, wkwkwk, buat saya yang pemalu dan paranoid tentu ini adalah tantangan keluar dari zona nyaman juga. Penting, tapi kalo ga dipaksa ga bakal kejadian.

Selanjutnya, hal ini jadi beban pikiran juga rupanya. Sehingga karena stres, beberapa hari mood saya jadi jelek. Kurang lebih isi pikiran saya seperti ini:

“Ya Allah, kenapa saya harus berbagi masalah agama. Udah jelas saya ini ga punya apa yang bisa dibagi. Mana keimanan lagi turun begini… Udah gitu saya nanti kena sanksi karena ngajarin hal yang belum tentu saya bisa melakukan. huuhuuuhuuuu.. mana saya punya demam panggung.”

Aarrghh.. krisis pede ditambah krisis keimanan emang bikin galau.

Ditambah lagi, anak-anak kajian di manhaj sebelah melihat kita-kita ini sok banget, gak punya ilmu aja rajin banget ngajarin orang. Jadi merasa serba salah. Huuhuu.. Guess what? Mereka benar. kita ini memang gak punya ilmu.

Tapiiii… akhi dan ukhti, tetangga pada pingin belajar Qur’an dengan keterbatasan biaya untuk mengundang ustad beneran. Mereka mau belajar tapi untuk pergi ke pusat-pusat kajian ustad ahli mereka punya sederet kerepotan sendiri. Masa iya tega, sekedar nasehat menasehati supaya tetap dalam tauhid dan keimanan di mushola atau rumah aja ga mau memfasilitasi?

Kalaulah boleh memilih, kami yang hijau dalam agama ini gak mau harus menanggung amanah ini. Sibuk belajar saja untuk diri sendiri dulu, daripada ngajarin hal yang salah lalu jadi dosa turunan. hiiiii.. Gak mauu… Makanya stres ini beneran, makanya tiap sebelum berbagi materi kami berdoa sungguh-sungguh supaya Dia hindarkan kami dari kesalahan ucap. Supaya Dia maafkan kesalahan-kesalahan kami. Dan supaya para pendengar hanya menangkap hal benar dari yang kami ucapkan. Sungguh kami hanya ingin menjaga keluarga dan lingkungan kami supaya tak tergelincir pada hal-hal buruk. Mengingatkan mereka bahwa dunia ini sebentar namun penuh dengan ujian, dan kehidupan sesungguhnya adalah nanti.

Karena untuk membesarkan anak-anak baik membutuhkan seluruh isi desa. Takes a whole village to raise a kid (African proferb). Dan kami ingin lingkungan kami adalah lingkungan yang baik, masyarakat yang baik, negara dan pemerintahan yang baik.

Karena anak-anak kita adalah calon pemimpin di masa depan. Merekalah yang akan mengampu amanah-amanah kepemimpinan yang sekarang kita pegang. Apakah mereka akan mampu menjaganya lebih baik dari kita. Ataukah lebih buruk? Lebih banyak korupsi, lebih banyak kebohongan, lebih banyak kecurangan. Kita adalah generasi yang baru mulai menyadari kesalahan-kesalahan diri. Yang sibuk berbenah. Mari sertakan keluarga dan lingkungan kita untuk ikut berbenah. Sehingga anak-anak kita tidak mengulangi kesalahan-kesalahan kita.

Tiap diri akan dimintai pertanggungjawaban akan kepemimpinannya masing-masing, terhadap diri, keluarga dan lingkungannya.

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ فَسَمِعْتُ هَؤُلَاءِ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَحْسِبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالرَّجُلُ فِي مَالِ أَبِيهِ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah menceritakan kepadaku Salim bin ‘Abdullah dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: \”Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (kepala Negara) adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas orang yang dipimpinnya. Seorang isteri di dalam rumah tangga suaminya adalah pemimpin dia akan diminta pertanggung jawaban atas siapa yang dipimpinnya. Seorang pembantu dalam urusan harta tuannya adalah pemimpin dan dia akan diminta pertanggung jawaban atasnya. Dia berkata; “Aku mendengar semuanya ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku menduga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Dan seseorang dalam urusan harta ayahnya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atasnya. Maka setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya “.(HR Bukhari)

Dalam rangka bertanggungjawab, maka sudah sewajarnya kita mengambil bagian dalam pembinaan masyarakat dan generasi mendatang. Yang gak wajar adalah mikir diri sendiri. Biarin aja orang lain terjun ke jurang, yang penting kita selamat. No guys. There’s no such option for us. Because we care. Because we are khilafah fil ardh.

Kita menanggung amanah peradaban. Amanah yang ditolak oleh langit, bumi dan gunung-gunung.

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada lelangit dan bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh..”
(QS Al Ahzab [33]: 72)

Kita berkewajiban menjadikan AlQur’an dan tuntunan Rasulullah tetap menjadi mercusuar bagi peradaban kita.

mercu suar

Share:

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *