Text Me for More Product Info: 0812-9948-137

Antara Ambisi dan Syukur

Sebagai manusia kita dikaruniai insting survival dan nafsu untuk merasakan kenikmatan lebih banyak. Itulah kenapa refleks tubuh kita ketika diet, dengan cara mengurangi makan dan olahraga, awalnya bisa menurunkan beberapa kilogram namun sepekan kemudian agak sulit untuk tetap turun sebanyak pekan awal. Ini karena tubuh menyesuaikan diri dengan berkurangnya asupan dan menggunakan mode hemat kalori untuk mengurangi kecepatan turunnya berat badan. Perlu porsi olahraga yang lebih intens supaya tubuh bersedia mengurangi lemak. Ini insting tubuh yaa.. Sedangkan untuk mengurangi makan, kita bertempur dengan nafsu diri yang suka makan enak. hehehe..

Anyway, saya cuma mau cerita.. Dulu, sebelum resmi berjodoh dengan pak suami, orangtua saya sempat berusaha “memperkenalkan” saya dengan seorang kerabat jauh yang secara ekonomi sudah cukup mapan. Secara agama dan keturunan mah udah cocok lah yaa, maksudnya seiman dan anak orang bener (bukan bohongan-red. :p). Jadi tinggal liat cocok apa ngga kepribadiannya. Dan satu hal yang saya ingat, saya memperhatikan sisi ambisinya dalam kehidupan. Entah apakah saya yang ambisius atau saya memasang standar yang cukup tinggi dalam  mencari pasangan hidup. Ga mesti sempurna, tapi kalau selalu berusaha menjadi lebih baik itu sudah lebih dari cukup. #eeeaaaa

Dan satu hal yang saya anggap mengindikasikan seseorang memiliki ambisi atau antusiasme untu menjadi lebih baik adalah kesukaannya dalam belajar. Maka saya tanyakan hal ini, “Apakah mas ada keinginan untuk belajar ke level berikutnya? Misal kalau sudah S1, ya ke S2, dst.” Dan sayangnya beliau menjawab, “Tidak. Kayanya sudah cukup S1 aja.”. Waduhh waduhh.. kepengen aja ngga loh ya, bukan masalah ada kesempatan atau ngga. Tapi siapa tau ada rezeki, masa kepengen aja ngga. Belajar apa kek yang lain juga gapapa, asal gak mandek. Ambisimu mas, mana? Maka saya pun mundur dari perjodohan itu.

Well, sedikit banyak bisa jadi karena saya udah ngincer pak suami dari jauh menggunakan parameter yang sama.

Karena, di perjodohan berikutnya yang difasilitasi oleh si pak -waktu itu belum- suami. Malah Curriculum Vitae kawannya yang disodorkan ke saya. Hih. You give me the wrong CV. Akhirnya saya mundur dengan alasan apalah, ga cocok gitu. Kawanmu dan aku sama-sama tipe pendengar yang baik. Saya nyari tipe cerewet, kaya kamu. Iyaaa kamuuu… #dalemhati

Nah, tiba-tiba saya pengen nulis postingan ini karena kemarin pak suami mengajukan sebuah proposal naik level. Wah apa nih? Pasti langsung curiga ke nambah “sesuatuh” yaaa.. :v

Well, memang betul saudara-saudara, dia memang mau nambah sesuatu. Dan itu adalah pengalaman untuk belajar hal baru.

harga logam mulia hari ini jual emas belajar investasi properti

Akhirnya kita setuju untuk belajar hal baru, investasi di bidang properti. Secara teori kami sudah familiar dengan investasi dan konsep ngeflip properti, tapi belum pernah praktek karena keterbatasan modal, heuheu.. meskipun aku ragu dengan masalah teknisnya, apalagi bulan depan dia pergi sebulan #omaigod. Tapi kalau dia bersemangat untuk maju, aku pun harus lebih siap. Bukankah ini yang kami sepakati dulu, to be an ever better person, together.

Maka, meskipun menjadi istri qonaah yang bersyukur selalu adalah suatu keniscayaan demi kebahagiaan, namun sebagai manusia kita juga harus selalu punya semangat untuk maju. Antara ambisi dan syukur.

Share:

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *