Text Me for More Product Info: 0812-9948-137

Belajar Babi

Ah… judul yang menarik, bukan begitu?

Sebetulnya bukan mau cerita tentang babi sih, hehehe.. cuma bingung aja ini postingan mau dijudulin apa. Mau ngoceh keceh aja tentang pengalaman beberapa pekan lalu.

Jadi, aku dan suami waktu itu sedang jelong-jelong akhir pekan karena anak-anak nginep di rumah nenek. Alhamdulillah aja dah, secara, kesempatan berduaan emang gak selalu ada kalau kita sudah dititipin amanah anak. Bukan begitu bukan?

Nah, setelah nonton film yang aku udah lupa judulnya itu (padahal belom sebulan), kelar magriban kita berasa laper. “mau makan apa?” suami. “Apa ajalah, udah laper banget nih.” Aku. Nah tau ndiri di pusat perbelanjaan di serpong itu tempat makan pasti rame pisan. Tapi di lantai 3 deket tempat solat itu ternyata foodcourtnya ga terlalu rame. Jadi kita belok lah ke situ.

Melewati beberapa stand bakut bla bla bla, kita liat ada stand soto betawi. Baeklah, yang ini insyaAllah aman. Aku pun duduk manis nunggu pak suami beli deposit dan pesen makanan. Aku pilih soto betawi, dia bebek goreng.

Gak lama dia balik bawa makanan, lalu ngambil sendok garpu dari station printilan.

Aku ngeliatin alat makan itu sambil mikir dalem ati, “alat makannya samaan nih. berarti tempat cuci-cuci perabot terpusat dong ya. Stand soto, bebek, dan BAKUT.”. Sambil mikir gitu sambil mulai makan sambil ngomong ke pak suami. Abisan, laper banget…

Kayaknya dia belum nyambung banget, sampe aku jelasin. “Itu loh, kalo anjing kan untuk mensucikan perabotannya harus 7 kali salah satunya dengan tanah. Nah, kalo babi gimana ya? Apakah bekas babi perlakuannya sama seperti anjing? Alat makan kita ini lho.. kan bisa jadi bekas masakan babi. Secara peralatan makannya terpusat untuk semua stand.”

Seandainya perlakuan ke bekasnya babi sama seperti anjing, kayaknya gak mungkin alat makan di sini dicuci sampai 7x dan salah satunya dengan tanah.

Pertanyaannya adalah:

  1. Meskipun babi haram dimakan, apakah bekasnya juga najis seperti bekas anjing?
  2. Kalaupun iya, bagaimana cara mensucikannya? Apakah sama seperti bekas anjing?

Dan dia pun nyadar, dan jadi kepikiran.. sampai minta maaf segala karena sebelumnya gak kepikiran sampai sana. Dia cuma mikir, milih makanan yang halal doang. Ya Allah nelangsa amat suamiku. Lha kalo gak tau kan ya belum kena pasal bersalah, dalem ati. Ya, faktanya aku gak tau dan dia gak tau, tentang wadah bekas makanan berbabi. Dan baru liat alat makannya berlogo foodcourtnya itu setelah makanan dateng.

Ya, hikmahnya adalah:

ILMU itu PENTING dan MENDESAK sodara-sodara. Orang beramal dengan ikhlas tapi tanpa ilmu itu berbahaya. Itulah kenapa dalam Arkanul bai’ah, Paham itu nomer 1, barulah ikhlas dan amal di nomer berikutnya. Klik aja untuk tau keseluruhan isinya.

Aku juga baru denger bahwa 1 orang fakih itu lebih berharga daripada 1000 orang abid. Hiks, tentu si orang fakih ini adalah ia yang mengamalkan ilmunya. Dan salah satu alasan kenapa 1000 orang abid tanpa ilmu bisa berbahaya adalah kasus-kasus bom bunuh diri atas nama jihad.

Anyway, lanjut cerita tentang bekas babinya ya… Di jalan menuju pulang, suami berusaha nyari jawaban tentang najis babi dan anjing, sambil nyetir! Ish, kebiasaan.. Hpnya kuminta lalu aku yang search. Dan inilah hasilnya:

Cara Mencuci Najis babi. https://konsultasisyariah.com/4989-cara-mencuci-wadah-bekas-daging-babi.html

Alhamdulillah, ternyata wadah bekas daging babi sudah cukup dicuci hingga bersih saja. Beda dengan anjing.

Terakhir, mari kita temukan terus kebodohan-kebodohan kita untuk selalu melahirkan keinginan belajar. Hindari perasaan puas dan cukup dalam pemahaman yang bisa menyebabkan kesombongan hati.

Wallahualam bishshowab.

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.

Share:

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *