Beberapa hari lalu ibu saya bertanya, “harga laptop berapaan ya?”

Setelah berpikir beberapa jenak, suamiku menjawab “tergantung maunya seperti apa bu. harganya bervariasi antara 3 sampai 30 juta lebih.”

“Yang sedang aja. Yang bisa untuk ngajar baca Quran.” kata ibu.

“Oh, yang 5 jutaan aja cukup kalo gitu.” Suami.

“Iya, ibu mau ngajak ibu-ibu majelis taklim ngebeliin laptop untuk guru ngajinya. Soalnya udah gak jelas layarnya, udah bintik2. Karena udah lama katanya.”

“Nah iya kalo udah bilang gitu mah harus dibeliin,” Kata suami lagi. Hahaa..

“Kesempatan untuk sedekah yang bisa mengalir terus pahalanya,” celetukku.

“Nah itu dia. Amal jariyah kan namanya.” Ibu.

———–

Amal jariyah adalah sebutan bagi amalan yang terus mengalir pahalanya, walaupun orang yang melakukan amalan tersebut sudah meninggal dunia. Amalan tersebut terus menghasilkan pahala yang terus mengalir kepadanya.

Kalau kita perhatikan ada beberapa hadits yang menyebutkan hal ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu didoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, no. 1631)

 

Yang dimaksud dalam hadits adalah tiga amalan yang tidak terputus pahalanya:

  1. Sedekah jariyah, seperti membangun masjid, menggali sumur, mencetak buku yang bermanfaat serta berbagai macam wakaf yang dimanfaatkan dalam ibadah.
  2. Ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu syar’i (ilmu agama) yang ia ajarkan pada orang lain dan mereka terus amalkan, atau ia menulis buku agama yang bermanfaat dan terus dimanfaatkan setelah ia meninggal dunia.
  3. Anak yang sholeh karena anak sholeh itu hasil dari kerja keras orang tuanya. Oleh karena itu, Islam amat mendorong seseorang untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka dalam hal agama, sehingga nantinya anak tersebut tumbuh menjadi anak sholeh. Lalu anak tersebut menjadi sebab, yaitu ortunya masih mendapatkan pahala meskipun ortunya sudah meninggal dunia.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya yang didapati oleh orang yang beriman dari amalan dan kebaikan yang ia lakukan setelah ia mati adalah:

  1. Ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan.
  2. Anak shalih yang ia tinggalkan.
  3. Mushaf Al-Qur’an yang ia wariskan.
  4. Masjid yang ia bangun.
  5. Rumah bagi ibnu sabil (musafir yang terputus perjalanan) yang ia bangun
  6. Sungai yang ia alirkan.
  7. Sedekah yang ia keluarkan dari harta ketika ia sehat dan hidup.

Semua itu akan dikaitkan dengannya setelah ia mati.” (HR. Ibnu Majah, no. 242; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dihasankan oleh Al-Mundziri. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

 

Terkait ini, aku teringat suatu masa beberapa tahun lalu ketika mendapatkan undangan untuk hadir di sebuah pesantren di Puspiptek Serpong. Mungkin aku pernah menceritakannya sebelum ini. Saat itu menjelang ramadhan, dan ustadzah yang menyampaikan ceramah mengingatkan keutamaan-keutamaan berinteraksi dengan AlQur’an dan memperbanyak tilawah. Termasuk strategi mengoptimalkan waktu ramadhan sehingga bisa semakin banyak khatam baca Qur’an. Setelah ceramah berakhir, dan kami semua terbakar semangatnya untuk serius mempersiapkan diri menyambut bulan mulia itu, sang ustadzah pun membagikan AlQur’an. Satu orang satu.

MasyaAllah. Aku masih takjub hingga kini melihat betapa serius beliau mencicil amal jariyah untuk akhiratnya. Bukan hanya sekedar memotivasi untuk rajin tilawah, yang pasti beliau akan memperoleh limpahan pahala juga dari setiap orang yang terinspirasi, lebih jauh dia pun membagikan AlQuran untuk dibaca. Dapet 2 amal jariyah dikali jumlah peserta dan jumlah Quran. Belum lagi kalau strategi investasi akhirat beliau dikopas oleh kita-kita dan disebarkan. Makin banyak berlimpahlah pahalanya.

Berkah berkah berkah.

Aku pun sadar, betapa strategi investasi akhirat ini juga diperlukan agar harta yang kita miliki bisa kembali berpuluh-puluh kali lipat sebagai tabungan akhirat. Beliau bukan sekedar bersedekah karena semua sedekah pasti kembali minimal 10x lipat, tapi beliaupun mencari bentuk sedekah khusus yang bisa selalu mengalir meskipun dia sudah “berpulang”.

Ini penting, karena bukan hanya sedekah yang bisa jariyah. Tapi dosa pun juga bisa jariyah. Ketika kita mencontohi orang lain sebuah dosa yang kemudian diikutinya, maka kita pun juga akan tetap memetik dosa itu meskipun sudah “berpulang”. Na’udzubillah min dzalik.

Semoga Allah mudahkan diri untuk bersabar terhadap waktu, harta, ilmu.

Sehingga semua yang Allah beri tidak habis sekedar untuk kesiaan diri. 🙁