Text Me for More Product Info: 0812-9948-137

Jilbaber Galak

Pulang kondangan kemaren saya kelepasan curhat sama suami tentang seseorang yang kami temui di lokasi kondangan. Kelepasan yang setengahnya melegakan tapi juga setengah merasa bersalah. Iyelah, ngomongin kejelekan orang lain mah kan ga boleh, justru karena orang lain itu jelek.. #ehplak Meskipun dia gak jelek pun ga boleh diomongin deng.

Kalau apa yang diomongin itu bener maka itu jadi ghibah sedangkan kalo yang diomongin ternyata salah itu adalah pitnah. Pake P. Gitu..

Nah, saya gak akan menyebutkan pelakunya siapa. Tapi saya akan menyebutkan gambaran dan hikmah yang saya bisa ambil dari kejadiannya.

Jadi suatu ketika, di suatu event bertema AlQuran. Saya melakukan sebuah kesalahan. Saya numpang duduk di area anak-anak bermain yang sudah gak ada anak-anaknya di situ, hanya ada sisa-sisa mainan, krayon, buku-buku mewarnai, dll yang berantakan. Jujur, saya gak tahu itu barang-barang anaknya siapa dan apakah mereka masih mau pakai untuk main lagi. Jadi saya biarkan saja lokasi itu berantakan, dan saya lanjutkan usaha saya menambah hafalan yang saya yakini sebagai me time karena di rumah dengan anak-anak saya yang aktif saya kesulitan bisa duduk manis apalagi plus menghafal. Menghafal itu kan butuh ketenangan lingkungan dan kedamaian jiwa. Ya kan? Ya kan? #yakcurcolajateroos Makanya saya bersemangat mengikuti event tersebut yang menargetkan pesertanya menyelesaikan hafalan sekian ayat plus tilawah berapa juz.

Ndilalah, seorang panitia tiba-tiba gusrak gasruk membereskan lokasi bermain anak itu sambil ngoceh-ngoceh marah yang kalimatnya menunjukkan protes kenapa lokasinya dibiarkan berantakan, betapa hafalan banyak tak berguna tanpa kepedulian terhadap lingkungan bla bla.. tanpa melihat ke arah saya.

Okelah. Saya berusaha tidak ambil personal. Karena toh dia cuma ngedumel sendiri, tidak mengatakannya kepada saya secara langsung.. -sama seperti status-status yang berseliweran di socmed, yag tidak ditujukan kepada saya secara langsung maka saya hanya anggap angin lalu saja. Menasihati itu ada adabnya, mbak ukhti.

Karena saya tidak ambil personal, maka saya juga melupakannya langsung. Heuheu. Tapi kemudian, ternyata si mbak juga buka jualan di dekat situ. Waktu break, saya tanya-tanya harga dagangannya dengan niat membeli. Rupanya si mbak masih marah sama saya, karena pertanyaan saya yang saya ulang beberapa kali tidak dijawab. Tapi pertanyaan pembeli-pembeli lain dijawab lho. Barulah di situ saya melihat bahwa si mbak menjadikan personal kemarahannya pada saya. Wuidih, saya geleng-geleng dalam hati. Etapi jangan tanya yang geleng-geleng di dalam hati itu berjilbab apa nggak ya. Soalnya ada yang bilang yang penting hatinya dijilbabi dulu. Wkwk.

Awalnya saya heran kenapa ada manusia dewasa yang bersikap demikian. Karena beliau itu ibu-ibu dengan anak-anak yang sudah besar. Tapi saya coba pahami, mungkin karakternya demikian. Mungkin dia berasal dari keluarga yang kurang pandai dalam mengelola komunikasi. Mungkin memang begitulah cara marah yang dia pahami. Apalagi beberapa kali setelah itu saya berjumpa lagi dengan beliau dalam event-event lain, dan setelan wajahnya tak pernah terlihat tersenyum. Raut kaku dan juteknya itu selalu mengingatkan saya pada momen mengesankan yang pernah terjadi. Meskipun saya memberikan senyuman paling ramah, rautnya tak berubah!

Mungkinkah dia masih menyimpan amarah pada saya? Saya tidak mempercayai ada seseorang yang bisa menyimpan amarah pada suatu hal demikian lama, seakan itu adalah dosa abadi yang tak termaafkan. Apalagi kejadian itu sudah bertahun-tahun lalu. Ah tapi entahlah..

Di kasus lain, ada seorang jilbaber yang lulusan ITB yang kukenal. Dengan latar belakang itu maka wajar karakternya ketika awal-awal saya kenal adalah kaku, blak-blakan, saklek.  Tapi seiring dengan waktu kini beliau berubah menjadi karakter yang terbuka, fleksibel, dan tidak lagi kaku. Luwwar biyasahh..

Saya pribadi sebetulnya sempat memiliki ketakutan tak berdasar pada mbak-mbak jilbaber. Apalagi yang ukuran jilbabnya panjang-panjang. Bisa jadi karena kita pikir jilbab panjang berarti agamanya udah jauuhh di atas, ibadahnya udah pooll, dst dst, lalu kita minder. Takut karena kita ini apalah apalah dalam hal ibadah dan pemahaman agama. Sampai-sampai bersama seorang sahabat di sekolah aku pernah bilang, “jangan panggil kami akhwat”. Yak, cuma karena kami ngeriii dengan ekspektasi umum terhadap akhwat. Padahal kita ini forever little girl yang suka becanda-canda gak jelas.

Tapi sekarang, konotasi akhwat udah gak sesakral jaman perjuangan dulu. Kini kata “Akhwat” hanya sekedar membedakan jenis kelamin dari “Ikhwan” di pintu wudhu. Jilbab-jilbab lebar pun kini sudah ngetrend. Jadi, masalah ibadah dan pemahaman gak ada hubungannya dengan panjang jilbab. Hihi. Tren yang bagus sih menurutku. Mudah-mudahan trennya ditambah dengan tren ngaji, lalu nambah tren istiqomah. Cakep banget kan itu. Daripada tren pakai baju mini, ya kan? Sekarang banyak ibu-ibu majlis taklim balapan panjang jilbab tapi gak khawatir dicap fundamentalis kayak dulu. Iyaa soalnya gamis atau jilbabnya kan penuh warna dan bunga-bunga..

Anyway, sekarang kita kalau liat seseorang galak dan emosional atau ngga itu tinggal liat postingan seseorang di grup atau di socmed. Bagaimana respon dia baca tulisan yang memancing emosi. Lihat foto-foto capture provokasi, gimana komennya? Apakah dia sering ngeshare broadcast hoax emosional? Apakah dia mengkonfirmasi badai informasi negatif yang dia terima? Reaksioner di grup fb dan wa atau yang menengahi perdebatan projok dan probo?

Pada akhirnya, kesimpulannya apa? Saya juga bingung. :p

Mungkin gini ya. Kita ga bisa menilai seseorang dari penampilannya. Bisa jadi jilbabnya panjang atau sederhana sekedar menutup dada, atau mungkin dia masih dalam proses yang complicated untuk berhijab (#eeaaa kayak status hubungan di fb gituh)…tapi yang jelas isi kepala dan isi hati tidaklah tercermin dari penampilannya. Ada sesuatu di dalam dada yang lebih pantas untuk dievaluasi. Dan jelas bukan tugas dan hak manusia lain untuk menilai isi dada. Tugas kita kepada saudara seiman adalah memberi uzur. Husnuzhon. Semoga Allah mudahkan hati-hati kita untuk senantiasa berprasangka baik.

 

 

 

Share:

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *