Text Me for More Product Info: 0812-9948-137

Mengamalkan Ilmu

Dalam perjalanan pulang dari anter anak sekolah, saya berpapasan dengan serombongan santri dipimpin oleh ustadznya di depan. Karena tak terlalu jauh dari rumah, saya agak mengamati apakah saya mengenali mereka. Dan ternyata memang wajah sang ustad terlihat familiar. Yap, setelah lewat beberapa meter saya ingat. Ini adalah ustad yang kemarin dipanggil mama mertua ke rumah untuk mendoakan suami sebelum berangkat haji.

Selewat beberapa meter setelah berpapasan itu lah saya menyadari sesuatu yang lain. Mereka merokok.

Di masyarakat kita, melihat seseorang yang merokok bukanlah suatu hal yang luar biasa. Seringkali di pertemuan-pertemuan di mesjid sekalipun masih banyak orang yang merokok. Kita pun menganggap itu hal yang biasa. Di sini, di kampung tempat saya tinggal kebiasaan merokok ini sedemikian populer sehingga tiap acara riungan atau yasinan selalu dapat dipastikan penuh dengan asap. Suami saya sering sengaja duduk di bagian terluar dari tempat ngeriung demi mendapatkan udara segar atau konsentrasi asap minimal jika hadir di acara riungan.

Sebetulnya, masyarakat lingkungan kami termasuk orang-orang yang bersikap netral dan terbuka pada hal-hal baik dan bermanfaat. Akan relatif mudah bagi para da’i untuk mengarahkan masyarakat ini menuju masyarakat berakidah lurus dan berakhlak soleh yang meramaikan mesjid di tiap waktu sholat. Seperti masyarakat di lingkungan mesjid Jogokariyan, Jogja.

Saya sempat menyampaikan hal ini kepada suami. Kenapa lah tidak kau usulkan dkm untuk buat taklim bulanan, sekedar untuk menambah wawasan masyarakat. Atau usulkan untuk gunakan bahasa Indonesia saat khutbah jumat. Apalah gunanya khutbah jumat dengan bahasa Arab di sini? Tapi ia merasa berat bahkan hanya untuk kumpul-kumpul ngobrol supaya dekat dengan dkm karena itu tadi, asap rokok. Kepalanya akan pusing karena menghirup asap.

Bagaimanalah orang-orang ini akan maju jika mereka selalu menghisap rokok di manapun.

Sedangkan para ustad lulusan pesantren ini pun merokok semua, mungkin seperti ustad-ustad mereka juga di pesantren. Sibuk belajar fikih solat, puasa, zakat, dll namun luput untuk menyadari hal-hal buruk yang mereka masukkan ke dalam tubuh. Kezaliman yang dilakukan terus-menerus pada diri sendiri dan keluarganya. Sungguh tak dibutuhkan berjilid-jilid kitab kuning untuk bisa memahami konsep mengambil yang halal dan baik, dan buang hal yang buruk dan merugikan.

dosa kecil

Ketika agama adalah alat bagi kita untuk mendekat pada Allah, maka mengamalkan ilmu agama adalah hal yang urgen. BUKAN berhenti pada mempelajari dan mengajarkan saja.

Wallahua’lam.

Share:

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *