Text Me for More Product Info: 0812-9948-137

Mewaspadai penyakit ‘Ain

Pertama kali mendengar tentang penyakit ini, jujur aja aku yang pragmatis ini (#halah) agak ragu juga. Karena sebab dan akibat fisik dari penyakit ini kok gak jelas. Ya karena sekarang ini kan jaman vaksin gitu loh. Kita mengantisipasi sesuatu yang jelas, virus dan bakteri yang menyerang saat kondisi daya tahan tubuh sedang lemah. Maka penting sekali menjaga keseimbangan dan metabolisme tubuh, jangan kecapekan kurang istirahat, jangan stress, jangan merokok dan mengasup hal-hal yang bersifat racun meskipun sekarang jenis-jenis makanan sangat mungkin mengandung berbagai pengawet dan lainnya.

Lha penyakit ‘ain ini sebabnya kok sepele sekali, bisa aja sesimpel pandangan mata kagum atau iri. Padahal -lagi, ini kan jaman socmed gitu lohhh, segala-gala diaplod. Dari makanan, pakaian, rumah, make up, bahkan jempol kaki dikasih henna aja diaplod. yakan, yakan, yakan?

Penyakit ‘Ain adalah penyakit yang disebabkan oleh pengaruh buruk pandangan mata, yaitu pandangan mata yang disertai rasa takjub atau bahkan iri dan dengki terhadap apa yang dilihatnya.

Dari Amir bin Robi’ah rodhiyallohu anhu :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar). (HR Ahmad).

Bukan hanya yang berpenyakit hati yang bisa punya rasa iri dan dengki, namun mereka yang saleh pun rupanya bisa juga menimpakan penyakit Ain ini tanpa sengaja pada saudaranya tanpa sadar karena kekaguman mereka. Naudzubillahi min dzalik.

Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, dia berkata bahwa Amir bin Robi’ah melihat Sahl bin Hunaif sedang mandi, lalu berkatalah Amir : ‘Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini” Maka terpelantinglah Sahl. Kemudian Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata :”Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah untuknya!Maka Amir mandi dengan menggunakan suatu wadah air, dia mencuci wajahnya,dua tangan,kedua siku,kedua lutut,ujung-ujung kakinya,dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia. (HR Malik dalam Al-Muwaththo 2/938, Ibnu Majah 3509, dishahihkan oleh Ibnu Hibban 1424. Sanadnya shohih, para perawinya terpercaya, lihad Zadul Ma’ad tahqiq Syu’aib al-Arnauth dan Abdul Qodir al-Arnauth 4/150 cetakan tahun 1424 H)

Nah, makin ruwet kan, kalau yang menyebabkan penyakit aja gak sadar akan kelakuannya bagaimana mungkin kita bisa menghalangi diri dari terkena penyakit ini?

Dari beberapa kisah yang pernah terbaca selintas dari mereka yang menyadari bahwa dirinya terkena Ain, dan lalu mampu menemukan penyebabnya, mereka pun meminta orang yang menyebabkan penyakit tersebut untuk membasuh dirinya dan kemudian dia mandi dengan air basuhan tersebut.

Tapi…bagaimana dengan kasus yang ga ketahuan pelaku penyebabnya? Di ruqyah aja, kak. Dan ruqyah terbaik adalah AlQuran kan?

Upaya-upaya orang tua untuk mengantisipasi anak dari ‘Ain:

1. Hendaklah orang tua membiasakan diri mereka membentengi anak-anaknya dari bahaya ‘ain dengan ruqyah-ruqyah (bacaan-bacaan) yang diajarkan dalam Islam. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabishollallohu alaihi wa sallam memohon perlindungan Alloh untuk Hasan dan Husain dengan doa :

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

Aku berlindung kepada Alloh untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari segala syaitan, binatang yang berbisa dan pandangan mata yang jahat. (HR Abu Daud)

2. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Ibnul Qoyyim dalam zadul ma’ad 4/159, hendaknya para orang tua tidak menampakkan suatu kelebihan yang menakjubkan yang dimiliki anak-anaknya yang dikhawatirkan akan mengundang rasa iri atau kedengkian orang yang melihatnya. Lalu Ibnu qoyyim menukil atsar dari Imam Baghowi bahwasanya pernah suatu ketika Utsman bin Affan rodhiyallohu anhu melihat seorang anak kecil yang sangat elok rupanya lagi menawan, kemudian Ustman berkata, “Tutupilah (jangan ditampakkan) lubang dagu (yang membuat orang takjub) pada anak itu.” Maka keadaan seperti itu sangat dikhawatirkan akan terjadinya pengaruh buruk ‘ain. Lebih-lebih kalau ada orang yang terkenal mempunyai sifat iri dan dengki.

3. Hendaklah para orang tua tidak berlebihan menceritakan kelebihan-kelebihan atau kebaikan-kebaikan anaknya yang tidak dimiliki anak-anak lain, sehingga mengundang rasa iri dan dengkii siapa saja yang mendengarnya,kemudian berusaha melihatnya,hingga Alloh menakdirkan terjadinya pengaruh buruk ‘Ain tersebut.

Upaya-upaya orang tua bila anak sudah terkena pengaruh buruk ‘Ain :

1. Jika pelakunya diketahui, maka hendaklah orang itu diperintahkan untuk mandi, kemudian orang yang terkena pengaruh mata itu mandi dengan bekas air mandi orang itu. Hal ini sebagaimana kisah sahabat nabi shollallohu alaihi wa sallam Sahl bin Hunaif rodhiyallohu anhu dalam hadits yang telah lalu,bahwa nabi shollallohu alaihi wa sallam memerintahkan Amir bin robi’ah rodhiyallohu anhu untuk mandi dan sisa air mandinya diguyurkan pada Sahl bin Hunaif rodhiyallohu anhu.

At-Tirmidzi menjelaskan :”Pelaku ‘ain diperintahkan untuk mandi dengan menggunakan air dalam baskom. Lalu meletakkan telapak tangannya di mulut dan berkumur-kumur, lalu disemburkan ke dalam baskom tersebut. Baru setelah itu membasuh wajahnya dengan air dalam baskom tersebut, lalu memasukkan tangan kirinya dan mengguyurkan air ke lutut kanannya dengan air baskom tersebut. Kemudian memasukkan tangan kanannya dan menyiramkan air baskom itu ke lutut kirinya.Baru kemudian membasuh tubuh di balik kain, namun baskom itu tidak usah diletakkan di atas tanah atau lantai.Setelah itu sisa air diguyurkan ke kepala orang yang terkena ‘ain dari arah belakang satu kali guyuran.

2. Memperbanyak membaca “Qul Huwallohu Ahad” (surat al-Ikhlas),Al-Muawwidzatain (surat al-Falaq dan an-Naas),al-Fatihah,ayat kursi,bagian penutup surat al-Baqoroh (dua ayat terakhir),dan mendoakan dengan doa-doa yang disyariatkan dalam ruqyah

3. Membaca doa :

بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ

“Dengan menyebut Nama Alloh,aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dan dari kejahatan setiap jiwa atau mata orang yang dengki.Mudah-mudahan Alloh subhanahu wa ta’ala menyembuhkanmu.Dengan menyebut Nama Alloh,aku mengobatimu dengan meruqyahmu.” (HR.Muslim no.2186 (40),dari Abu Said rodhiyallohu anhu)

Atau

بِاسْمِ اللَّهِ يُبْرِيكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ

“Dengan menyebut nama Alloh,mudah-mudahan Dia membebaskan dirimu dari segala penyakit,mudah-mudahan Dia akan menyembuhkanmu,melindungimu dari kejahatan orang dengki jika dia mendengki dan dari kejahatan setiap orang yang mempunyai mata jahat.” (HR. Muslim no. 2185 (39), dari Aisyah rhodiyallohu anha)

Ini adalah doa yang dibacakan malaikat Jibril kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam ketika mendapat gangguan syetan.

4. Membacakan pada air (dengan bacaan –bacaan ruqyah yang syar’i) disertai tiupan, dan kemudian meminumkan pada penderita,dan sisanya disiramkan ke tubuhnya. Hal itu pernah dilakukan Rosulullohshollallhu alaihi wa sallam kepada Tsabit bin Qois. (HR. Abu Daud no. 3885)

5. Dibacakan (bacaan) pada minyak dan kemudian minyak itu dibalurkan. (HR Ahmad III/497,lihat silsilah al-Ahaadits as-Shohihah :397). Jika bacaan itu dibacakan pada air zam-zam,maka yang demikian itu lebih sempurna jika air zam-zam itu mudah diperoleh atau kalau tidak, boleh juga dengan air hujan.

Lalu, apa yang membedakan suatu penyakit itu karena virus atau karena ‘Ain?

Jawabannya, entahlah.

Pada anak bayi, ia menangis terus menerus dan kejang-kejang bahkan tak mau menyusu pada ibunya.

Pada anak-anak, meskipun ia makan seperti biasa namun tubuhnya kurus kering.

Pada manusia dewasa, mengalami kelemahan tubuh sehingga tak mampu berdiri.

Sebagian gejala ini tidak menafikan adanya gejala-gejala lain sebagai penyakit ‘Ain, yang setelah diperiksakan ke dokter atau ahli medis namun tak ditemukan penyebabnya secara jelas.

Namun saya berusaha menarik benang merah dari penyebab-penyebab dan upaya penghindaran dari penyakit ini, yaitu bila merasa kagum pada kelebihan orang lain maka ucapkanlah pujian pada Allah. Barokallah.. Bukan pujian pada orang yang mendapatkan nikmat tersebut.

“Aduuh cakep banget anaknya, cantik kayak bintang kelap kelip di langit.” Jangan beri pujian begini. Just don’t. Bilang aja, MasyaAllah barokallahu lakum, segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kebaikan padanya.

Karena, kuduga… sebetulnya penyakit ‘Ain ini muncul dari kecemburuan Allah. Betapa Dia Yang Maha Sempurna telah memberi manusia dengan segala, namun mengapakah pujian dialamatkan pada manusia? Maka satu-satunya jalan keluar adalah memohon ampun atas segala kekhilafan, merendah, mengembalikan diri pada tempat kita yang semestinya dan memperbanyak puji-puji padaNya. Mintalah padaNya untuk mengembalikan kekuatan tubuh kita atau anak-anak kita. Semoga Dia berkenan mengampuni.

Ini konteksnya karena kemaren abis sakit, ga jelas sakit apa… cuma tulang punggung aja rasanya pegel banget. Dibawa tidur berjam-jam malah jadi lemes. Akhirnya pasrah aja, introspeksi diri.. apakah barusan abis pamer-pamer sesuatu di socmed.. heheehee.. masalahnya sering sih aplod foto ga jelas, dan semua bisa jadi sarana datangnya penyakit ‘Ain. Hari ini alhamdulillah udah seger, tenaga full kayak abis dicharge, Allah saja yang memberi segala kebaikan. Wallahu’alam.

 

Referensi (tulisan italic/miring):

– Metode Pengobatan Nabi shollallohu alaihi wa sallam, Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah

– Doa dan Wirid Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah,Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas

– Majalah al-Furqon edisi 4 tahun V Dzulqo’dah 1426 Desember 2005, Artikel oleh Ust. Abu Ibrohim Muhammad Ali, published by ummushofi.wordpress.com

—————————————————————————————————————

Jangan lupa ikuti Harga LM tiap hari di IG: tabunglm_cahyani dan dapatkan Skema Tabung LMnya.

Load More
Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.

Share:

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *