Text Me for More Product Info: 0812-9948-137

Rezeki Jam Rusak

Kadang kita terlalu fokus pada apa-apa yang bisa dinilai dengan uang ketika melihat konsep rezeki. Apakah itu berupa keuntungan bisnis, gaji, rumah, mobil, begitu pula ketika kita mampu melihat bahwa di balik kesehatan ada rezeki berlimpah. Di sana ada sekian keping LM yang tak perlu dijual untuk dikonversi dengan biaya rumahsakit dan dokter. Dan ini betul. Perhatikan betapa selama hidup kita sudah memanfaatkan oksigen gratis, jantung, paru-paru, ginjal yang berfungsi normal.. belum terhitung juga nikmat berpanca indera yang lengkap. Free.. Gratis semua. Ga mesti membayar. Betapa kaya raya kita ini.

Namun ada juga rezeki yang tersembunyi dari sedikit masalah yang kita alami. Hal-hal yang kita anggap buruk bisa jadi memiliki hikmah luar biasa di dalamnya. Seperti ayat berikut:

“Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (QS. Al-Baqarah : 216)

Di ayat tersebut dengan konteks perintah berperang, kita selalu menganggap perang adalah suatu hal buruk. Merugikan dan jauh dari kenyamanan dunia. Namun ketika ia adalah sebuah perintah dari Allah, maka ia adalah sumber keridhaan Allah.

Saya bukan mau bicara tentang perang, meskipun momennya cucok sekali. Menjelang pemilihan kepala daerah gini. hahaa..

Saya sedang ingin menulis sebuah hal sederhana. Jam rusak di ruang tengah. Jam andalan saya dalam mengatur jadwal harian. Kapan mulai masak, siapin bekal anak, antar jemput anak, kirim paket YES yang ada limit waktunya #olshopbanget, atau berapa lama ada kesempatan ngeblog dan pesbukan sebelum masuk waktunya “ngejar-ngejar” anak untuk waktu  makan mandi solat berikutnya. Iya, dari 3 anak baru satu yang kira-kira “beres” ga perlu dikejar-kejar untuk 3 urusan itu, bahkan ikut bantuin “ngejar” adik-adiknya. Hihi.

Khusus untuk masalah jadwal kejar-kejaran ini, bisa dihitung untuk 3 kali waktu makan, 5 kali waktu solat dan 2 kali waktu mandi, yang masing-masingnya biasanya sekitar 3-5kali manggil, dikali lagi dengan jumlah anak. Saya bantu itung yah. (3+5+2)x3x3anak= 90 kali manggil. Ini untuk yang rutinnya. Yang gak rutin adalah mengingatkan untuk membereskan alat makan, membereskan kamar, menyiapkan sendiri bawaan sekolah, dll.

Lalu, sejak kemarin lusa jam di ruang tengah berhenti berdetak. Karena belum sempat mengganti baterainya plus males manjat2 tangga, maka sampai sekarang jam itu masih rusak. Nunggu keluangan pak suami yang baru kemarin sampai di rumah setelah sebulan pergi. Jadi, kemarin pagi, jadwal saya adalah menyiapkan sarapan anak sambil ngeprint tugas sebelum pergi ke acara yayasan sambil jemput bakpia pesanan dan ke pasar untuk beli lalapan. Target berangkat jam 6.30 melar jadi 7.30 karena jam andalan itu istiqomah menunjukkan pukul 5.45.

Beres jadwal pagi, diduga 10.30 (karena jam mati) sudah sampai rumah lagi untuk masak nasi beriyani kambing #tsahnggaya, ngungkep ayam, gelaran karpet sambil nyuruh-nyuruh anak yang mestinya udah mandi ternyata belom. Kami mau ke bandara ngejemput abah, persis setelah solat zuhur. Menurut aplikasi azan zuhur adalah 11.48, jadi pukul 12 kita berangkat.

Sampe rumah lagi langsung acara penyambutan, makan-makan. Asar. Selonjoran bentar setelah beberes sisa gelaran siang. Magrib keluarga besarku datang juga. Gelaran lagi. Makan-makan malam.

Entah pukul berapa mereka pamit, pokoknya 5 menit setelahnya aku sudah terlelap. Meuni paregel, mak.

Setelah suami di rumah, juga karena kasus terlambat berangkat sejam di pagi hari, aku berhenti melihat jam ituh. Dan mengalir aja sepanjang sisa hari. Entah, karena ga perlu melihat jam untuk menentukan sekarang waktunya apa rasanya di hati damaiii banget. Kayak ga ada yang ngeburu-buru aku untuk melakukan apa berikutnya. Gatau dah itu anak makan apa ngga, mandi apa ngga, solat apa ngga. Nyuruh sih nyuruh, tapi dilakukan apa ngga sama mereka aku ga ngontrol lagi.

Gini doang aja udah merasa “bebas” dan damai yak. Dasar emak-emak kompulsif.

Jam itu juga matinya tepat waktu sebetulnya, di hari ketika emak lelahnya terakumulasi setelah hampir sebulan ngurus anak sendiri. Semacam memberi “waktu break” dari jadwal.

Pagi ini emak udah bisa selonjoran lagi, beban kerja dua orang yang sebulan ini dikerjain sendiri udah bisa dibagi lagi ke suami. Terutama megang bontot yang terus-menerus minta perhatian dan rikues ini itu. Sebentar lagi kalau suami udah beres dari jetlagnya, siap-siap aja disuruh ganti lampu kamar mandi dan teras yang mati, ganti batre jam, sama ngajak emak jalan-jalan. Ngelurusin syaraf-syaraf tegang ini perlu banget kalau mau emak tetep waras. #ngancem

Iyalah, bayangin aja jam rusak dibahas gini, kurang piknik gimana Hayati? :v

Pengen ambil cuti, boleh bang?

lelah

Share:

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *