Sambungan dari post sebelumnya tentang Ziarah Haramain

Ketika akhirnya Allah izinkan pesawat kami berangkat dan landing di bandara Jeddah, perasaan takjub mulai meresap di hati. Takjub yang tak hanya berisi kesyukuran namun juga tercampur sedikit kege-eran. Sebuah perasaan berbahaya yang jika dibiarkan maka ujungnya adalah terjerumus pada kemarahan Allah. Naudzubillah.

Kege-eran yang lahir dari pertanyaan yang terbersit di hati: Apa yang telah kulakukan sehingga Allah berikan hadiah ini?

Entahlah apa setan betul-betul telah diikat di bulan Ramadhan, tapi nyatanya ujian hati itu semakin meruncing ketika dalam perjalanan di bis antara Jeddah dan Madinah aku membuka whatsapp. Sebuah pesan dari sahabat masuk. Seorang sahabat yang dalam interaksi kami telah terjadi beberapa transaksi keuangan taawun.

Dia menyatakan doa-doa keberkahan untuk perjalanan umrohku dan suami. Dan menyampaikan kesaksian bahwa rezeki ini adalah karena peran-peran positifku dalam muamalah dengan suami, dengan anak, dan dengan orang lain. Detailnya ga perlu lah ya.. Dan pesan ini bagiku seakan-akan adalah sebuah jawaban atas pertanyaan malu kucing yang sebelumnya terbersit di hatiku. Apakah ini jawaban?

Selama beberapa saat kemudian, sambil menanti waktu subuh di rest area, berwudhu lalu bersujud, aku memikirkan sambil mengawasi hatiku apakah pujian sang sahabat ini benar.. menimbang-nimbang kuantitas dan kualitas amal sebelum ini dibandingkan dengan amalan-amalan orang lain yang kukenal. Betulkah? Bukankah dibandingkan dengan si A, dia lebih banyak amalnya. Dibandingkan dengan si B, dia lebih sabar. Dibandingkan dengan si C, dia lebih qonaah. Dst dst. Lalu di bagian mana diriku bisa dibilang pantas menerima hadiah ini?

Jadi setelah melihat fakta-fakta tersebut, kesimpulannya aku tidak lebih pantas dari orang lain. Lalu kenapa aku?

Beberapa dugaan yang kemudian muncul adalah:

  1. Jangan-jangan ini adalah istidraj :'( Kemudahan-kemudahan dalam pengabulan permohonan akan pemberian rezeki berlimpah harus diwaspadai sebagai bentuk kesengajaan Allah untuk membiarkan diri ini makin jauh dalam kecintaan pada Harta. Naudzubillahi min dzalik. Seluruh harta dan rezeki yang Allah berikan adalah ujian, yang harus dipertanggungjawabkan penggunaannya. Selamatkah diriku nanti ketika tiba masanya menyetorkan laporan ini. Maka tidak ada permohonan lain setelah pengabulan doa ini selain istigfar dan istigfar atas kengerian istidraj.

2. Ujian dunia terbagi atas kesenangan dan kesedihan. Maka dalam kedua situasi itu yang harus dilakukan adalah bersabar. Sabar atas limpahan rezeki dengan mengakui bahwa seluruhnya adalah dari Allah, dan tak ada sedikit pun unsur kepintaran atau usaha manusia yang bisa diklaim sebagai penarik rezeki. Atau sabar dalam rezeki yang sedang disempitkan olehNya.

———————————————-

Ujian Tidak Hanya Dengan Sesuatu Yang Buruk
Allâh Azza wa Jalla tidak hanya menguji seseorang dengan sesuatu yang buruk. Akan tetapi, juga menguji seseorang dengan sesuatu yang baik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan [al-Anbiyâ’/21 : 35]

Terkadang seorang Muslim apabila ditimpa dengan musibah dan kesusahan, ia sanggup bersabar.Namun, begitu diberi kenikmatan yang berlebih, terkadang ia tidak bisa lulus dari ujian tersebut. ‘Abdurrahmân bin ‘Auf Radhiyallahu anhu pernah berkata:

ابْتُلِينَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالضَّرَّاءِ فَصَبَرْنَا ثُمَّ ابْتُلِينَا بِالسَّرَّاءِ بَعْدَهُ فَلَمْ نَصْبِرْ

Kami diuji dengan kesusahan-kesusahan (ketika) bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami dapat bersabar. Kemudian kami diuji dengan kesenangan-kesenangan setelah beliau wafat dan kami pun tidak dapat bersabar[11]

—————————————————————————————————-

Sang sahabat yang merasa rezekinya pas-pasan saja dalam kesabarannya bisa jadi lebih mulia dalam kehidupannya daripada diriku yang selalu dimanja dan dilimpahi kenyamanan.

Bisa jadi pula, dengan limpahan kenyamanan ini aku akan semakin melupakan bagaimana caranya untuk menjadi manusia yang sabar sepenuhnya dalam rezeki yang pas-pasan. Sehingga jika ternyata Allah takdirkan aku berada di situasi sulit maka aku akan lebih mudah kufur. Naudzubillah.

…………….Harap Bersabar Ini Ujian

3. Dugaan terakhir, ini adalah “cara” bagiNya untuk menanamkan “hutang” bagiku. Bukannya berupa hadiah bagi amalan-amalan sebelumnya, dia berikan hadiah itu di awal agar aku menambah amalan-amalanku sebelumnya yang tak seberapa. Bayarlah dengan amalan luar biasa sebagai kesyukuran, sebagai harga yang pantas untuk membayar umroh ini.

Ketika DP yang telah diberikan luar biasa indah seperti ini, mengapakah aku perlu menahan diri lagi dalam memberi? Sepanjang hidupku, bukankah kemudahan-kemudahan selalu muncul di setiap kelokan.

Ragu kini tak lagi memiliki alasan untuk ada.

(bersambung)