Beberapa hari terakhir ini pak suami menceritakan tentang keadaan seorang kawan yang telah menikahi istri keduanya di awal tahun. Beliau baru mendapati beritanya sekitar 1-2 pekan saja dari kawannya tersebut.

Saya agak tertarik sekedar melihat info itu sebagai fakta, “oh gitu. ya ya.. menarik.” tapi tidak berminat mengorek lebih jauh kecuali memang pak suami yang menceritakannya.

Namun kemarin lusa, saya menemukan sebuah berita yang meskipun belum terverifikasi kebenarannya namun karena ada korelasi dengan cerita sebelumnya maka saya jadikan sebagai pemancing obrolan. Tentang seseorang yang adalah public figure namun menyembunyikan pernikahan kedua dari istri pertama sampai beberapa tahun. Tanggung, kalo menurut saya. Udah bisa menyembunyikan pernikahan itu selama beberapa tahun yang cukup lama kok pake ketahuan segala. Hehehe. Ngeribetin aja. Kalo nggak ketahuan kan malah gak apa-apa, ga ada yang sakit hati, gak ada yang merasa dicurangi, gak ada keluarga yang hancur. Karena nyatanya si istri ga melihat perbedaan sikap suami dengan adanya istri kedua atau tidak. Ini bisa berarti suaminya tidak mengurangi perhatian ataupun nafkah sama sekali dari istri pertama. Atau, saking sedikitnya perhatian di antara mereka maka ada orang lain pun tak terasa. Mungkin aja si public figure memang udah jarang pulang, ya toh?

Sebetulnya, saya cuma penasaran bagaimana reaksi pak suami terhadap kasus ini. Namun malah jadi heran karena ternyata beliau “ikut mikir” bagaimana caranya supaya everything turns out to be the best situation for them. Jadi baiknya bagaimana? kata dia. Mendingan bilang apa mending gak bilang sekalian? Laaaahh.. kok ngurusin. Udah kejadian, udah jelas ga bisa diapa-apain lagi. Kecuali, jawaban ini akan menjadi pegangan untuk “rencana” di masa depan.

Lalu aku baper.

 

(bersambung)

ben. emang niat nulis panjang. ben waras.