Text Me for More Product Info: 0812-9948-137

Venus dan Mars Tentang Rezeki

Ini postingan pertama di tahun 2017. Saya sekali lagi tertarik menulis tentang rezeki. Tentu saja dari perspektif baru.

Di mata saya, rezeki selalu datang sebagai sebuah keajaiban.

Betul, jika melihat dari laporan penjualan saya yang sedikit ini tentunya tak akan cukup untuk bisa membayar fasilitas-fasilitas plus sehari-hari. Sebetulnya bahkan keuntungan dari hasil jualan saya mungkin hanya cukup untuk mengcover kebutuhan mendasar saja, tanpa jalan-jalan, jajan-jajan ketika jalan-jalan, belanja-belanja khimar, ransel imut, mainan anak, mukena cantik, dan lain-lainnya yang tersier ituh.

Maka meskipun kadang saya mikir untuk berhemat dan gak belanja tersier apapun, tapi apalah daya, as soon as saya buka instagram mata sulit lepas dari scroll warna-warna cakep dan motif-motif kiyut dari model gamis terbaru.

Ya, rezeki adalah keajaiban. Dia masuk ke rekeningku dari rekening suami, dan sebelumnya dari rekening perusahaan-perusahaan yang menyewa jasanya.

Ya betul, suami bekerja keras dari waktu ke waktu untuk memenuhi kontrak dengan klien-kliennya. Namun apa yang menggerakkan para klien tersebut untuk menyewa jasanya? Apakah jaringan hubungan dengan berbagai pihak? Apakah proposalnya yang menarik? Apakah keahliannya dalam mengajar?

Bilapun mereka tertarik untuk menggunakan jasanya, mengapa mereka bersedia menerima proposal harganya kadang tanpa negosiasi? Menurut saya pribadi angkanya terlihat cukup mahal. Tapi ah mungkin karena saya gak apdet harga trainer. Atau karena saya ada di lingkaran emak-emak yang demen nawar #hahahay.

Saya tetap menganggap serangkaian Ya-Ya-Ya dari seorang direksi bagian sdm, dari pengambil keputusan, dan dari bagian keuangan yang mencairkan uang ke rekening suami adalah serangkaian keajaiban.

Bagaimana caranya manusia bisa terbang? Pilih jadwal, beli tiket, pergi ke bandara, check in, masuk pesawat, barulah manusia itu terbang (dengan pesawat). Tentu saja semua itu dengan proses, dan satu bagian saja tidak terlaksana maka seluruh proses pun berhenti. Kita jalankan saja bagian kita, maka sisanya Allah yang menggerakkan.

Namun, lihatlah dari sisi seorang suami. Pikirannya merasa berat karena kewajiban nafkah yang ditanggungnya. Karena biasanya laki-laki menggunakan otak kanan untuk menyelesaikan masalah, menurutnya 1+1=2.

Bila dirinya tak bekerja menghasilkan uang, bagaimana keluarga yang ditanggungnya akan survive? Dan ini adalah sebuah pikiran bertanggungjawab, demikianlah semestinya seorang lelaki berpikir. Laki-laki adalah penanggungjawab keluarga. Meskipun kadang-kadang kita temui juga suami pemalas yang membiarkan istrinya menanggung nafkah keluarga sekaligus melayani dirinya, tapi stigma umum Laki-laki gagah adalah laki-laki yang bertanggungjawab menjaga keluarganya.

Ingatkah kalian kisah seorang sahabat yang merasa kasihan melihat Rasulullah kelaparan di perang Khandaq? Ia masih memiliki seekor kambing kecil dan berniat memotongnya untuk mengganjal perut Rasulullah dan keluarganya. Setelah matang, ia bisikkan pada Rasul sebuah undangan untuk makan di rumahnya. Apa yang terjadi? Rupanya Rasulullah mengajak seluruh sahabat untuk makan bersama.

Ia pun dengan pucat dan khawatir menyampaikan pesan Rasul kepada istrinya. Manalah mungkin seekor kambing kecil bisa cukup untuk memberi makan seluruh sahabat. Istrinya bertanya, “sudahkah kau sampaikan ukuran hidangan ini?” “Ya.” Maka sang istri menenangkan suaminya.

Dan benarlah, atas keberkahan dari Allah maka makanan itu sanggup memberi makan ratusan orang. (Kisah selengkapnya di sini)

Beberapa hari lalu ketika saya mengikuti sebuah training bisnis, sang pembicara menyampaikan beberapa kiat dan sarana untuk menjadikan sebuah produk laris. Namun, sebuah brand besar seperti unilever pun juga pernah menciptakan produk gagal yang hanya berusia beberapa bulan. Sedangkan sebuah produk donat biasa dari brand tak terkenal ada pula yang sudah memiliki banyak cabang di luar negeri. Inilah saat sukses tak dapat dihitung, rezeki tak dapat dikalkulasi. Selalu ada campur tangan Allah dalam sampainya rezeki kepada kita.

Rumus yang dipakai sama. Kiat suksesnya sama. Tips larisnya sama. Tapi kenapa hasilnya beda? Itulah rahasia kejaiban rezeki #iklandikit. Semua jualan cabe di pasar, berderet-deret, tapi rezekinya beda-beda.

Bukankah Dia yang senantiasa memberi rezeki kesehatan sehingga kartu asuransi ini tak perlu digunakan? Tabungan ini tak perlu diforward ke RS? Kebahagiaan apa yang bisa menandingi kesehatan badan dan kenikmatan berkumpul bersama keluarga?

Jalan-jalan lalu makan bubur, sambil menghirup udara segar di hari libur?

Maka mengapakah keningmu berkerut memikirkan bagaimana, berapa, kapan rezeki akan datang.

Bukankah rezeki sudah ada di sini, tersenyum mesra, memelukmu hingga lelap, kadang menemanimu makan nasi padang.

*ditulis oleh si “venus”

Share:

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *